Konfli kOrganisasi

BAB 1
PENDAHULUAN
               Seiring berjalannya waktu, tidak dapat dipungkiri dalam suatu organisasi yang dibentuk kerap terjadi konflik, baik konflik internal maupun konflik eksternal antar organisasi. Konflik ini terjadi dikarenakan setiap orang yang bergabung dalam organisasi memiliki visi, misi yang berbeda dan karakter yang berbeda. Permasalahan-permasalah sepele yang terjadi dalam tubuh organisasi akan membawa organisasi tetap bertahan atau bahkan hancur.
                  Konflik dalam organisasi sering dilihat sebagai sesuatu yang negative bahkan membawa pengaruh buruk terhadap organisasi yang dinaunginya, hal ini dikarenakan saat lawan organisasi mengetahui konflik internal terjadi pada lawannya maka akan dimanfaat untuk menjatuhkan lawannya.
                 Saat terjadi konflik dalam organisasi dibutuhkan mekanis dan manajemen pengambilan keputusan yang tepat untuk menanngani konflik tersebut hingga selesai bukan untuk meredam konflik. Sebab konflik yang diredam akan muncul kembali menjadi suatu konflik yang lebih besar dikemudian hari.

BAB 2
PEMBAHASAN

           1. KONFLIK
Dalam buku Organization Behavior (1996) Stephen Robbins mendefinisikan konflik sebagai suatu proses yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh terhadap pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif  mau pun negatif.
Sedangkan menurut Killman dan Thomas (1978),  konflik merupakan kondisi ketidakbocoran antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun hubungan dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan roduktivitas kerja.
ada 5 jenis konflik dalam kehidupan organisasi yaitu,
  1. Konflik dalam diri individu, yang terjadi bila sesorang indivdu menghadapi ketidakpastian tentang pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya. Bila berbagai permintaan saling bertentangan, atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya.
  2. Konflik antar individu dalam organisasi yang sama, dimana hal ini sering diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan kepribadian. Konflik ini berasal dari adanya konflik antar peranan (seperti antara manajer dan bawahan).
  3. Konflik antara individu dan kelompok, yangberhubungan dengan cara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka.
  4. Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama, karena terjadi pertentangan kepentingan antar kelompok atau antar organisasi.
  5. Konflik antar organisasi, yang timbul sebagai akibat bentuk persaingan ekonomi dalam sistem perekonomian suatu negara. Konflik ini telah mengarahkan timbulnya pengembangan produk baru, teknologi, dan jasa, harga-harga lebih rendah , dan penggunaan sumber daya lebih efisien.
 Sumber-sumber utama penyebab konflik organisasi, yaitu:
  1. Perbedaan individu , yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan,
  2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda pula,
  3. Perbedaan kepentingan individu atau kelompok,
  4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat, dan
  5. Perbedaan pola interaksi yang satu dengan yang lainnya.
Teknik -teknik utama untuk memecahkan konflik organisasi:
  • Introspeksi diri,
  • Mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat ,
  • Identifikasi sumber konflik.
Spiegel (1994) menjelaskan ada lima tindakan yang dapat kita lakukan dalam penanganan konflik :
 a. Berkompetisi
Tindakan ini dilakukan jika kita mencoba memaksakan kepentingan sendiri di atas kepentingan pihak lain. Pilihan tindakan ini bisa sukses dilakukan jika situasi saat itu membutuhkan keputusan yang cepat, kepentingan salah satu pihak lebih utama dan pilihan kita sangat vital. Hanya perlu diperhatikan situasi menang – kalah (win-lose solution) akan terjadi disini. Pihak yang kalah akan merasa dirugikan dan dapat menjadi konflik yang berkepanjangan. Tindakan ini bisa dilakukan dalam hubungan atasan bawahan, dimana atasan menempatkan kepentingannya (kepentingan organisasi) di atas kepentingan bawahan.
 b. Menghindari konflik
Tindakan ini dilakukan jika salah satu pihak menghindari dari situsasi tersebut secara fisik ataupun psikologis. Sifat tindakan ini hanyalah menunda konflik yang terjadi. Situasi menang kalah terjadi lagi disini. Menghindari konflik bisa dilakukan jika masing-masing pihak mencoba untuk mendinginkan suasana, mebekukan konflik untuk sementara. Dampak kurang baik bisa terjadi jika pada saat yang kurang tepat konflik meletus kembali, ditambah lagi jika salah satu pihak menjadi stres karena merasa masih memiliki hutang menyelesaikan persoalan tersebut.
 c. Akomodasi
Yaitu jika kita mengalah dan mengorbankan beberapa kepentingan sendiri agar pihak lain mendapat keuntungan dari situasi konflik itu. Disebut juga sebagai self sacrifying behaviour. Hal ini dilakukan jika kita merasa bahwa kepentingan pihak lain lebih utama atau kita ingin tetap menjaga hubungan baik dengan pihak tersebut.

Pertimbangan antara kepentingan pribadi dan hubungan baik menjadi hal
yang utama di sini yaitu :
 a. Kompromi
Tindakan ini dapat dilakukan jika ke dua belah pihak merasa bahwa kedua hal tersebut sama –sama penting dan hubungan baik menjadi yang utama. Masing-masing pihak akan mengorbankan sebagian kepentingannya untuk mendapatkan situasi menang-menang (win-win solution).
 b. Berkolaborasi
Menciptakan situasi menang-menang dengan saling bekerja sama. Pilihan tindakan ada pada diri kita sendiri dengan konsekuensi dari masing-masing tindakan. Jika terjadi konflik pada lingkungan kerja, kepentingan dan hubungan antar pribadi menjadai hal yang harus kita pertimbangkan.

              2.  MOTIVASI
Motivasi adalah proses  yang menjelaskan intensitas, arah dan ketentuan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, teori X dan Y Douglas McGregor maupun teori motivasi kontemporer, arti motivasi adalah alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu. Seseorang dikatakan memiliki motivasi tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang. Berbeda dengan motivasi dalam pengertian yang berkembang di masyarakat yang seringkali disamakan dengan semangat, seperti contoh dalam percakapan "saya ingin anak saya memiliki motivasi yang tinggi". Statemen ini bisa diartikan orang tua tersebut menginginkan anaknya memiliki semangat belajar yang tinggi. Maka, perlu dipahami bahwa ada perbedaan penggunaan istilah motivasi di masyarakat. Ada yang mengartikan motivasi sebagai sebuah alasan, dan ada juga yang mengartikan motivasi sama dengan semangat.

BAB 3
ANALISA

Tidak dapat dipungkiri, semakin besar kedudukan suatu organisasi maka semakin banyak peluang konflik timbul didalamnya. Baik konflik internal maupun konflik eksternal yang timbul akibat persaingan antar sesame. Mekanisme dan manajemen pengambilan keputusan yang tepat dalam penanganan konflik organisasi sangat dibutuhkan sebagai kelangsungan organisasi itu sendiri. Karena yang dibutuhkan bukan meredam konflik tapi bagaimana cara menangani konflik yang terjadi untuk menyelesaikannya hingga tuntas dan dapat membawa dampak konstruktif bagi organisasi. Introspeksi diri, mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat serta identifikasi sumber konflik merupakan teknik utama dalam pemecahan konflik organisasi.

BAB 4
REFERENSI

id.wikipedia.org/wiki/Konflik


0 komentar:

Post a Comment